Cerita Tubuh Dalam Fotografi Manusia

Author

Pada beberapa waktu yang lalu, bincang-bincang live di akun Instagram ARThemis @arthemis.ig menghadirkan seorang model dari Bali, Angelica Amara. Secara umum, ngobrol bareng waktu itu bercerita tentang pengalaman Angel sebagai model yang telah berkecimpung di dunia modeling dan berbagai pemotretan untuk produk komersil ataupun editorial. Tapi pada akhirnya, aku tergelitik mempertanyakan ‘prasangka’ tentang tubuh, terutama tubuh perempuan sebagai objek fotografi.

Diskusi tentang topik itu singkat saja, dan Angel menjawab dengan lugas bahwa di masa saat ini sudah tak ada lagi ‘prasangka’ semacam itu tentang tubuh seorang model, apalagi model perempuan. Saat ini model tak lagi diharuskan memiliki tubuh kurus atau berkulit putih untuk bisa dipotret sebagai model profesional. Pada akhirnya, tanganku jadi gatal juga untuk menuliskan tentang pemikiran sendiri mengenai tubuh dan manusia sebagai bagian dari fotografi.

Model manusia memang kerap menjadi objek fotografi yang paling banyak muncul, sebab manusia memiliki struktur dan siluet tubuh serta ekspresi wajah yang menarik. (Mungkin) sampai hari ini masih banyak orang beranggapan jika menjadi model profesional harus memiliki standar kelayakan tertentu untuk bisa tampil di runway fashion week, ataupun tampil di majalah hingga baliho dalam iklan komersil. Standar kelayakan yang jamak dianggap banyak orang untuk menjadi model antara lain: bertubuh kurus, memiliki pipi tirus, badan tinggi, dan kebanyakan berkulit putih/cerah. Intinya, ‘keindahan’ semua model memiliki ciri yang seragam.

Kini manusia sebagai model fotografi bukan lagi sekedar objek yang divisualisasikan menurut keinginan sang fotografer. Kesadaran tentang penghargaan terhadap tubuh telah menjadikan model manusia menjadi subjek yang memiliki cerita unik sendiri-sendiri. Maka dari itu, fotografer berusaha menangkap kekhasan kisah tersebut lewat bidikan lensanya. Hasilnya adalah sebuah foto yang menampilkan sisi kemanusiaan sang manusia yang dipotret. Emosi seperti bahagia, marah, sedih, luka, hingga pengharapan adalah ‘objek’ yang ditekankan saat memotret model manusia.

Pertama kali aku tertarik dengan dunia fotografi dan modeling adalah saat tak sengaja aku jadi keranjingan menonton reality show America’s Next Top Model yang dipandu (sekaligus pemilik lisensi acara tersebut) oleh Tyra Banks, seorang model kenamaan dan juga aktivis yang mempromosikan tentang body positivity.

Abaikan saja drama dari para calon model dalam acara tersebut, namun yang kutangkap dari show tersebut adalah upaya Tyra untuk mendobrak stigma dan ‘aturan’ baku dalam dunia model. Tyra melakukan casting dengan memilih para calon model dengan beragam cerita: orang yang pernah memiliki masalah dengan kegemukan, penderita vitiligo, penyandang disabilitas, hingga single mother berusia 40 tahun. Intinya, menjadi model tidak dinilai dari bentuk tubuh atau kesempurnaan yang selama ini melekat dalam citra seorang model. Namun model dinilai dari kemampuannya mengikuti arahan fotografer, bekerja sama dalam tim, hingga profesionalisme.

Jika modeling hanya melulu soal pemotretan tubuh indah, tak ayal dunia fotografi manusia hanya disesaki oleh tubuh-tubuh yang ditampilkan dengan standar yang sama. Padahal tubuh manusia sudah berbeda meski memiliki anatomi yang sama. Lekuk dan siluet tubuh tiap orang memiliki cerita yang sifatnya sangat pribadi. Maka menjadi semacam kewajiban bagi para fotografer dan editor foto untuk tidak menyamaratakan keindahan-keindahan tersebut dalam standar yang sama, melainkan menunjukkan keragaman kemanusiaan terutama dalam bentuknya yang tak sempurna.

Sungguh memang mata manusia mencintai yang serba cantik dalam kesempurnaan. Ditambah pula dengan ‘persaingan’ konten di media sosial, terutama Instagram, yang menuntut kreator memproduksi foto/video demi mendapatkan likes dan impression yang tinggi. Sayangnya jika itu terkait dengan self portraiture, sejumlah manipulasi lewat aplikasi foto begitu banyak dilakukan. Sampai-sampai banyak dari foto diri itu justru pada akhirnya tidak lagi menampilkan citra diri yang sesungguhnya.

Please, don’t be like that person! Yang kamu lakukan dengan membuat hidung tampak lebih mancung, atau bibir menjadi lebih tebal, sebenarnya bukanlah sebuah kebohongan terhadap publik. Melainkan pembohongan terhadap diri, sekaligus penolakan tentang jati diri sendiri.

Tentu menggunakan filter bukan dosa demi mendapatkan sebuah foto artistik atau tone color yang menarik. Tapi jangan ubah bentuk tubuhmu hanya karena ia terlalu lebar atau terlalu kecil. Sebab tubuh adalah satu-satunya bentuk kepemilikan mutlakmu yang tak bisa dimiliki oleh orang lain. Sebab siluet tubuhmu yang membuatmu menjadi kamu. Sebab tubuhmu adalah cerita yang kamu miliki sepenuhnya.

Maka hormatilah tubuhmu!

Relevant Posts

No results found.

Menu