Tantangan Seni di Era ‘New Normal’

Author

Juni akan menjadi bulan yang diupayakan pemerintah sebagai momen ‘perbaikan’ kondisi ekonomi, sosial, politik, dan budaya masyarakat Indonesia setelah didera pandemi Covid-19. Dengan mencanangkan New Normal, pemerintah akan menyosialisasikan beragam kebiasaan baru yang sesuai di tengah masih merebaknya penyebaran Coronavirus.

Ini bisa merupakan angin segar bagi para entrepreneur, terutama pelaku industri ekonomi kreatif yang merupakan salah satu industri paling terdampak selama pandemi. Demi memutus mata rantai penyebaran virus, semua event seperti pameran seni, konser musik, hingga pemotretan dan pembuatan film harus ditiadakan agar tidak menyebabkan banyak orang berkerumun.

Dengan adanya pembatasan tersebut, dari segi finansial, pemasukan bagi bidang usaha hampir sama sekali tidak ada meski secara kreatif para pelaku ekonomi kreatif masih bisa mengupayakan pembuatan konten digital, seperti virtual photoshoot, konser live via Instagram, penyelenggaraan kelas daring secara gratis atau berbayar, atau sekedar menerima berbagai tantangan online di media sosial seperti #passthebrushchallange.

Sebagai sebuah perusahaan yang baru terbentuk pada Februari 2020 ini, penyebaran Coronavirus menghentikan segala langkah bagi startup yang sedang semangat-semangatnya berlari. Ada banyak rencana yang tertunda, bahkan dibatalkan, selama pembatasan sosial ini. Salah satunya rencana untuk membuka studio foto premium di Pekanbaru, Riau. Belum lagi segala kegiatan pemotretan untuk pameran seni, pembuatan konten kreatif pemasaran, dan masih banyak kerjasama lainnya yang tak bisa dilakukan.

Pelonggaran karantina wilayah atau penerapan kebijakan New Normal ini pun tampaknya masih cukup samar untuk kembali menyelenggarakan kegiatan-kegiatan kreatif. Indonesia bahkan belum melewati puncak kurva penyebaran virus Corona. Pembatasan jarak dalam kerumunan masih merupakan keharusan. Sedangkan untuk kegiatan seni budaya, bisa dikatakan kerumunan merupakan faktor keberhasilan terpenting. Tanpa kerumunan, kegiatan berkesenian tidak akan memiliki ruhnya karena kerumunan orang-lah yang memberi apresiasi terhadap hasil karya seni.

Namun bagaimanapun juga, pada akhirnya manusia harus merendahkan diri dan takluk pada proses alam. Takluk bukan dalam arti menyerah, melainkan berusaha untuk bisa hidup berdampingan tanpa sedikitpun menoleransi bahaya virus Corona.

Cara yang saat ini bisa dilakukan para pegiat seni dan pelaku ekonomi kreatif adalah dengan mengubah gaya hidup yang tadinya berkerumun dengan face-to-face menjadi screen-to-screen. Pemindahan aktivitas berkesenian secara daring saat ini merupakan cara terbaik dan teraman untuk tetap berkarya sekaligus mendapatkan apresiasi khalayak.

Memang tidak mudah karena ini bisa jadi kali pertama beberapa orang untuk menerapkannya. Butuh persiapan matang berupa pengadaan alat khusus dan jaringan internet yang memadai. Tapi memang selalu ada pertama kali untuk segala sesuatunya, dan harus selalu siap untuk keluar dari zona nyaman.

Dan ya…. Berkesenian memang selalu keluar dari zona nyaman. Jika selalu merasa nyaman, tidak akan pernah ada karya-karya luar biasa. Tetralogi Pulau Buru bukan tercipta dari liburan snorkling atau island hopping Pramoedya Ananta Toer. The Sixth Symphony tidak akan semenakjubkan itu jika Beethoven tidak tuli. Associated Press memenangkan 13 Pulitzer Price untuk kategori foto jurnalis yang kebanyakan diliput pada masa-masa perang di Vietnam, Irak, dan kejadian saat upaya pembunuhan Presiden Ronald Reagan.

Jadi mungkin tidak ada alasan bagi para insan seni untuk berkarya sembari mencari alternatif pemasukan finansial meskipun penyebaran virus Corona mendera.

Relevant Posts

Menu